0

Misteri Bunga Tujuh Rupa

Posted in
Ping your blog, website, or RSS feed for Free My Ping in TotalPing.com
Masih ingat ritual jamasan mobil ESEMKA sebelum uji emisi beberapa bulan yang lalu? Mobil itu dimandikan dengan bunga tujuh rupa, supaya terhindar dari bencana dan lulus uji emisi. Meski hasil ujian menunjukkan.......kegagalan.

Beberapa hari setelah tragedi Xenia maut yang menewaskan 9 orang, di antara warga ada yang menaburkan bunga 7 rupa di halte Tugu Tani, lokasi terjadinya kecelakaan dahsyat.

Tampaknya, bunga tujuh rupa sangat populer di blantika perklenikan dan ritual adat Bahkan seperti menjadi ‘piranti’ wajib yang diklaim sebagai peninggalan para leluhur. Menjelang pernikahan, ruwatan untuk menyingkirkan kesialan, mencari kesaktian, memandikan pusaka dan kembang itu hampir selalu ada dalam setiap sesaji.

Kita mungkin tidak terlalu heran jika yang melakukan itu semua dikenal sebagai orang kafir atau musyrik. Yang menyedihkan ketika tradisi itu dilakukan oleh orang yang telah bersyahadat, menjalankan shalat dan rukun Islam yang lain.

Mengikuti Syariat Siapa?
Seperti ketika membeli motor atau mobil, sebagian belum berani memakainya sebelum dimandikan dengan bunga tujuh rupa. Mereka menganggap cara ini lebih ampuh dari apa yang disyariatkan Allah melalui lisan Rasul-Nya, yakni dengan memegang ubun-ubun kendaraan dan membacakan doa,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dari kebaikannya dan kebaikan yang engkau anugerahkan atasnya dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang engkau ciptakan pada dirinya”. (HR. Bukhari dan lainnya)

Seakan ritual ini juga lebih hebat pengaruhnya untuk mengusir roh jahat, setan dan jin-jin jahat dibandingkan bacaan ta’awudz ataupun surat-surat Mu’awwidzaat dalam al-Qur’an, yakni al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Atau lebih hebat dari doa perlindungan yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan banyak versinya. Terhadap orang yang mengikuti tradisi semacam ini, layak diajukan pertanyaan atas mereka,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS asy-Syuura 21)

Jika memang mereka menyembah Allah, tentu mereka akan mengikuti syariat Allah, tapi jika syariat yang dipakai bukan sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, berarti dia memiliki sesembahan lain yang juga memiliki syariat.

Ibnu Katsier menafsirkan tentang ayat ini, “Yakni mereka tidak mengikuti syariat Allah berupa agama yang lurus, bahkan mereka mengikuti apa yang disyariatkan setan-setan kepada mereka, baik setan jin maupun manusia,”

Kita seringkali mendengar para dukun yang mengaku mendapat wangsit, lalu wangsit itu dijadikan sumber rujukan untuk menjalani ritual, hingga kemudian ritual itu menjadi populer di tengah masyarakat, lalu dilakukan secara turun temurun. Tidak menutup kemungkinan, dari sinilah tradisi itu bermula.

Jika demikian halnya, tafsir Ibnu Katsier di atas sangat mencocoki kasus ini. Karena tak lain, bahwa sumber dari wangsit tersebut adalah setan jin yang membisikkan ‘wangsit’ kepada partnernya dari golongan manusia, sebagaimana firman Allah,

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS al-An’am 112)

Hanya Karena Tradisi atau Prasangka
Sejauh ini, belum ada keterangan, siapa pemilik hak paten sebagai penemu ritual yang melibatkan bunga tujuh rupa. Jika ditanya sumbernya, alasan paling populer adalah mengikuti tradisi neneka moyang. Tapi nenek moyang yang mana? Jelas nenek moyang yang dimaksud bukanlah Nabi Ibrahim yang bertauhid, bukan pula Nabi Nuh alaihissalam. Tapi nenek moyang penyembah berhala, atau yang mengagungkan makhluk halus dan pemuja arwah.

Lantas apa untungnya mengikuti mereka, apa pula bahaya yang ditakutkan tanpa mengikuti mereka. Mereka tidak punya hak atau kuasa untuk menimpakan bala’ bagi yang melanggar tradisinya, tidak pula memiliki surga untuk memberi ‘reward’ atau balasan bagi orang-orang yang setia melestarikan tradisinya. Bahkan bisa jadi di antara mereka ada yang nasibnya seperti Amru bin Luhay, moyangnya orang Arab yang pertama kali membawa berhala di Arab. Nabi mengisahkan tentangnya,

وَرَأَيْتُ أَبَا ثُمَامَةَ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِى النَّارِ

“Aku melihat Abu Tsumamah Amru bin Luhay bin Qama’ah menyeret ususnya di neraka.” (HR Muslim)

Alasan lain dari sebagian orang yang merestui tradisi itu bahwa itu hanyalah sebagai simbol. Masing-masing bunga memiliki filosofi. Seperti bunga tujuh rupa yang terdiri dari bunga Mawar, konon menjadi simbol kelahiran diri manusia ke dunia. Ada bunga Kantil yang menggambarkan jiwa spiritual yang kuat untuk meraih sukses lahir maupun batin, sebagian menafsirkan dengan kesetiaan. Ada Melati, sebagai simbol bahwa segala tindakan harus melibatkan hati. Bunga Kenanga sebagai simbol kesetian sebagai generasi penerus kebaikan para leluhur. Begitupun dengan bunga lain; Cempaka, Sedap Malam dan Melati Gambir masing-masing dimaknai sebagai simbol-simbol pengharapan.

Pemaknaan tersebut sangat subyektif dan berbeda satu sama lain. Karena tak ada pathokan selain ‘zhan’ (persangkaan), atau otak atik makna belaka. Apalagi hasil otak atik itu kemudian dijadikan sebagai keyakinan dan amalan yang disertai keyakinan bisa mendatangkan manfaat maupun mencegah madharat. Ini yang menjadi sebab sesatnya kebanyakan manusia. Allah berfirman,

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS al-An’am 116)

Tak ada kaitan logis maupun syar’I, yang menghubungkan antara kembang tujuh rupa dengan keselamatan ataupun bencana. Tak lain yang mereka lakukan hanya berdasarkan persangkaan belaka, dan yang mereka akukan hanyalah kedustaan semata. Wallahul Muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)

0 komentar: