0

SUKA DUKA MENUNTUT ILMU KAROMAH DAN PERDUKUNAN

Posted in
chakra_733396
Ping your blog, website, or RSS feed for Free My Ping in TotalPing.com 


Betapapun beratnya persyaratan yang harus ditempuh untuk mendapatkan ilmu karomah dan perdukunan, namun banyak juga orang yang bersedia menempuhnya. Setelah mendapatkan semua itu ternyata mereka hanya mendapatkan kesenangan semu . Mereka tidak menemukan kebahagiaan dan kesenangan yang diangan angankan padahal mereka sudah banyak berkorban untuk mendapatkan semua itu.
Ilmu karomah dan perdukunan termasuk tipu daya syetan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah yang lurus. Syetan menjanjikan angan angan kosong dan menjebak manusia untuk mempersekutukan Allah. Mereka mendapat kesenangan sedikit didunia selanjutnya diakhirat dibenamkan kedalam neraka jahanam. Dalam surat Fathir ayat 5-6 Allah telah mengingatkan manusia agar jangan tertipu oleh kehidupan dunia dan angan angan kosong yang dijanjikan syetan.
fathir-5-6
5- Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. 6- Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fathir 5-6)
Berikut kami sampaikan pengalaman beberap orang yang menuntut ilmu karomah dan perdukunan ini, yang pada akhirnya menyedari kekeliruannya kemudian bertaubat dan meninggalkan semua ilmu yang pernah dituntutnya.

Gus Wachid : Saya Gagal Dakwah dengan Cara Perdukunan
SAYA MULAI belajar ilmu-ilmu perdukunan sejak masih Tsanawiyah. Tawuran yang menjadi tren ketika itu, membuat tekad saya untuk mempelajari ilmu klenik semakin kuat. Di sebuah pesantren, saya memulai belajar dengan puasa patigeni dan selametan pakai ayam jago. Hatinya saya yang makan, dagingnya yang makan kyainya. Wah, saya diakali thok…Kalau gitu ya nayamul (Bahasa Arema: lumayan) buat kyainya (Tertawa). Kemudian disuruh puasa 40 hari. Setelah itu, untuk mengetahui sah tidaknya puasa dites. Tesnya dengan cara membaca wirid dulu. Salah satu wiridnya adalah: Ya maliki ya maliku, iyyaka nakbudu waiyyaka nastain. Jarum ditusukkan dan kulit saya disilet. Aneh, tidak ada darah yang keluar sedikitpun, walaupun ada bekasnya. Pertanda puasa saya sah. Saya lulus.
Padahal saya melanggar aturan guru. Karena saya hanya sanggup puasa selama 7 hari. Baru dapat beberapa hari, BAB saya berwarna putih. “Waduh, bisa bisa mati saya,” pikir saya. Saya memang berbakat untuk urusan ilmu-ilmu seperti ini. Kata orang, saya ini keturunan Joko Tingkir, jadi dzikirnya bisa pamungkasan (ampuh). Cirinya adalah panjang depa kedua tangan saya lebih panjang dari panjang badannya. Sementara teman-teman yang puasa genap 40 hari lengkap ada yang disuruh mengulang karena tidak lulus.
Belajar ilmu seperti itu ada urutannya. Pertama, ilmu Karamah.Selanjutnya, ilmu tenaga dalam. Kalau orang cuma belajar tenaga dalam tanpa karamah biasanya tidak kuat. Ilmu tenaga dalam itu mudah. Beli juga bisa. Diisi langsung bisa di tempat. Nah, di tenaga dalam inilah nanti setiap dukun itu mempunyai spesialisasi sendiri-sendiri. Ada ilmu kebal, pelet, santet dan sebagainya. Tanpa dua ilmu ini, berarti itu dukun bohongan. Setelah kedua ilmu tersebut berikutnya adalah lelakon yang berfungsi untuk mempertahankan dan meningkatkan.
Cara mendapatkan ilmu karamah dengan membaca shalawat, kemudian puasa beberapa hari. Selanjutnya mewiridkan: Ya Allah, Ya Rasulullah, Ya Syekh Abdul Qadirjaelani, Ya Allah kulo nyuwun karamahipun Syekh Abdul Qadirjaelani (Ya Allah, saya minta karamahnya Syekh Abdul Qadir Jaelani). Sambil dipancing dengan gerakan-gerakan untuk kemudian gerak sendiri tanpa bisa dikendalikan. Setelah itu minta gerakan apa saja, langsung bisa sendiri.
Setelah selesai mempelajari ilmu karamah di Malang, baru saya mengembara dari kota ke kota mencari ilmu pengisian. Yang cukup lama di Lumajang, selama 2 tahun. Di sanalah saya belajar ilmu Cor Wojo (isian untuk kekebalan). Pantangan ilmu ini adalah makan pisang Mas. Tetapi waktu saya mencoba melanggarnya, tidak ada pengaruhnya buat saya.
Termasuk yang saya pelajari adalah ilmu pasang susuk. Susuknya terbuat dari jarum emas. Cara memasukkannya dengan membaca shalawat dalam jumlah tertentu kemudian membaca: udkhuluha bisalamin aminin (masuklah dengan selamat lagi aman, ayat).
Di Kediri, saya meneruskan perburuan ilmu. Saya diajari shalawat tertentu yang dibaca dalam jumlah yang cukup banyak. Baru membaca beberapa kali saja, sudah muncul hasilnya. Jin datang dengan wajah mirip guru saya. Bahkan namanya pun menggunakan nama guru saya.
Tidak puas sampai di situ, saya mengejar ilmu yang lebih tinggi dari Cor Wojo yaitu ilmu Sungai Raja. Madura tujuan saya. Termasuk di dalamnya ada pembelajaran jurus Wali Songo. Mewiridkan sembilan asmaul husna, tetapi sebenarnya salah satunya bukan nama Allah: Ya hayyu, ya ali, ya mali, ya wafi, ya waqi, ya qowi, ya ghoni, ya wall, ya baqi (Mali bukan nama Allah). Dibaca sembilan kali tanpa nafas. Tapi nampaknya saya kurang sukses. Selanjutnya, saya lebih banyak mengembangkan sendiri dengan membaca dari buku-buku dan diskusi.
DAN BANYAK ORANG YANG TERTIPU…
Tahun 1986 saya sudah mulai praktik setamat dari Aliyah. Hanya dari mulut ke mulut, saya semakin dikenal banyak orang. Puncaknya tahun 1988 waktu saya di semester satu IAIN. Pelanggan saya orang-orang besar. Di antara mereka ada para dosen saya sendiri. Belum lagi para dosen itu membawa teman-temannya lagi. Makanya mereka semua sangat sangat hormat kepada saya. Sampai pernah, ketika saya mbisu (puasa bicara) saat diskusi kelas. Para dosen tidak ada yang menegur, yang ada malah semakin hormat. Mereka hanya bilang, “Gus Wachid lagi mbisu.”
Kecuali satu orang yang masya Allah.., Abu Bakar Muhammad namanya, dosen hadits orang Bima, beliau sangat benci saya. Kalau masuk kuliah, laki perempuan dipisah. Resikonya, beliau adalah dosen hadits yang paling tidak laku. Tapi saya selalu mengambil beliau. Hanya beliau yang tidak terpengaruh saya.
Setelah itu, dari mulut ke mulut orang ramai datang ke saya untuk minta bantuan. Saya waktu itu punya majlis Shalat Tasbih dan dzikir setiap malam Jumat Legi. Dan setelah itu saya adakan taubatan (mandi di kolam). Saya dulu punya kolam untuk memandikan orang. Itu sebenarnya kolam ikan mungkin malah ada ularnya juga. Semua ini sebenarnya hanya mengarang. Tanpa rujukan atau bisikan.
Beberapa nama besar bahkan para akademisi agama pernah saya mandikan. Pernah suatu saat datang seorang profesor kepada saya karena kasus anaknya yang nakal, kurang wibawa dalam memimpin, anak buahnya mulai ada yang berontak dan mulai adanya saingan. Saya mandikan, mandi taubat, kata saya. Sebelum mandi, saya si ram sebanyak 3 kali. Saya siramkan air di kepalanya yang botak sambil saya katakan, “Istighfar ya pak. Istighfar ya pak!” Sebenarnya saya ingin tertawa dengan apa yang saya lakukan itu. Karena saya sendiri tidak yakin dengan apa yang saya lakukan. Kok yo goblok temen (kok ya bodoh sekali). Kalau angin duduk bisa mati nih orang, kata hati saya. Jadi, kayak saya jadikan hiburan saja.
Ada peristiwa yang lebih menggelikan. Pada suatu malam, seorang atasan yang jadi pasien saya sedang saya mandikan di pinggir sumur. Tiba-tiba datang salah seorang anak buahnya yang juga perlu bantuan saya. Melihat bawahannya datang, dia blingsatan dan sangat malu kemudian minta saya sembunyikan.
Sebenarnya saya lebih dikenal sebagai pemasang susuk. Terutama susuk kekebalan. Pernah saya mengisi satu pasukan yang mau berangkat bertugas ke Timor Timur. (Gus Wachid diam sejenak dan mengucap perlahan: Astaghfirullahal adzim…).
Pengisian masal seperti itu tidak hanya terjadi sekali. Tahun 1993 waktu saya KKN di Malang Selatan, semua anak peserta KKN saya isi. Laki-laki dan perempuan semuanya saya suruh menelan pelor. Tujuannya untuk jaga-jaga karena tempat KKN nya adalah basis orang Kristen.
Solusi yang saya berikan kepada para pasien terkadang hanya pakai feeling saja. Dengan konsentrasi sebentar kemudian datang solusi. Kalau sedang bingung mencari solusi, saya pura-pura masuk ke kamar dulu. Sebenarnya jujur, waktu itu buat mikir dulu apa yang harus saya lakukan. Maka, terus terang saya ragu kepada para dukun yang katanya selalu dapat bisikan saat menyelesaikan masalah pasiennya.
Saya bukan tipe dukun yang suka dengan bantuan jin, walupun saya punya. Jin saya yang paling akrab namanya Abdul Qowi (Karena sesuatu hal, nama jin pun harus disamarkan, Red). Saya memanfaatkan dia hanya untuk mengobati orang yang sedang kesurupan saja. Dengan membaca salah satu model shalawat sebanyak tiga kali, dia sudah langsung hadir.
Saya tidak terlalu suka dengan jin saya itu. Tetapi biar pun begitu, dia sering hadir. Yang terlihat oleh saya, Abdul Qowi tidak ada fisiknya dan tidak bisa dipegang. Kadang datang seperti bayangan, kadang seperti kaca. Tetapi terkadang juga hadir dalam mimpi. Pernah saya di ajak jalan-jalan ke kawan-kawannya. Kawan-kawannya seperti ulat kepompong bergelantungan di pohon.
Kalau datang dia menasehati saya. Tetapi tidak berani yang aneh-aneh. Karena dia tahu kalau saya punya ilmu agama. Dia tidak pernah memerintahkan saya menyembelih binatang, karena saya tahu itu haram jika untuk persembahan jin. Paling hanya nyuruh saya shadaqah sir (rahasia) dan amal lain yang tidak terlihat melanggar syariat.
Dalam mengobati orang kesurupan, sangat sering saya dan Abdul Qowi harus mengeluarkan jin yang lebih kuat. Tetapi saya lawan lagi, lawan lagi. Sampai keringat becucuran. Kalau sudah lelah begitu, saya berdoa dengan ilmu karamah, “Ya Allah kembalikan kekuatan saya.” Tiba-tiba kembali kuat.
Selain Abdul Qowi, ada satu jin lainnya yang beberapa kali datang membantu saya. Kalau jin-jin yang lainnya banyak yang datang kemudian pergi. Jin yang beberapa kali datang itu namanya Sumo. Awal saya kenal Sumo adalah saat saya mengobati orang yang kesurupan. Melalui lisan orang itu, Sumo berkata, “Kulo tumut dadi santri jenengan (Saya iku jadi santri Anda).” Setelah itu, dia datang berkali-kali waktu saya mengobati orang kesurupan. Saya suruh dia masuk ke tubuh orang yang kesurupan itu dan keluarlah suara Sumo yang pernah saya kenal dulu.
Tapi, tidak semua pengalaman perdukunan itu menyenangkan. Saya pernah dikerjai oleh Abdul Qowi. Malam itu jam menunjukkan pukul 22.00. Saat saya mulai mewiridkan sesuatu. Mencoba ilmu supaya bisa pergi ke Mekah dalam waktu sejenak. Abdul Qowi datang dan mengajak saya pergi ke suatu tempat dalam keadaan saya seperti tidak sadarkan diri. Dalam pekatnya malam, saya terus berjalan hingga saya sadar Abdul Qowi telah meninggalkan saya. Gelap sekali. Saya tidak tahu di mana. Saya coba tenangkan diri. Lihat kanan-kiri dan barulah saya tahu bahwa saya sedang ada di suatu candi di Batu Malang. Waktu itu Batu malang masih belum banyak penduduknya. Pagi harinya, kaki saya penuh duri dan celana saya kotor oleh rumput dan duri.
Sejak saat itu kebencian saya kepada mereka semakin bertambah. Maka ketika saya mulai taubat, jin Abdul Qowi saya ludahi agar dia pergi.
BEBURU BARANG GHAIB
Saat saya masih aktif di perdukunan, saya sering mengambil barang-barang ghaib dengan tirakatan dan amalan tertentu. Pernah suatu hari saya bersama seorang tokoh agama terkenal di Malang dan seorang dukun dari Pasuruan yang juga guru saya belajar ilmu susuk, mengadakan ritual untuk mengambil batu mirah. Sebelumnya, kami telah menerawangnya dengan ilmu karamah dan dzikir. Hasilnya, tempat keberadaan batu mirah dan waktu keluarnya sudah kami dapatkan. Di Malang Selatan.
Malam semakin larut. Malam itu adalah malam ketiga kami mengadakan tirakatan di tempat itu. Tiba-tiba sebongkah batu besar menggelinding begitu saja. Merah menyala. Kedua orang yang bersama saya, justru lari. Katanya mereka melihat ular besar sekali. Tetapi saya tidak melihatnya. Yang saya lihat hanya batu mirah saja. Saya ambil batu mirah itu dan langsung saya bungkus dengan lawon (kain kafan yang belum dipakai). Dan kami bawa pulang. Barang ghaib seperti itu tidak boleh langsung dimanfaatkan sebelum diselameti terlebih dahulu. Batu mirah yang terbungkus kain kafan itu saya masukkan ke peti dan  diselameti dengan ayam putih. Peti terkunci rapat. Saya sendiri yang menjaganya. Jika malam tiba, saya tidur di atas peti itu. Tetapi anehnya, ketika tirakatannya selesai dan peti kami buka ternyata batu mirah berubah menjadi tanah.
Pernah juga saya dapat uang satu peti dalam pecahan sepuluh ribuan. Kalau yang ini perlu waktu lima malam untuk mengambilnya. Hanya, saya ikut malam yang terakhir saja. Tempat mengambilnya di pembakaran batu bata yang kata orang angker. Di kampung itu ada orangtua yang diimpeni (mendapat mimpi) bahwa batu batanya tidak boleh diambil, karena disenangi oleh makhluk halus untuk membangun istananya. Sudah bertahun-tahun batu bata itu tidak ada yang berani mengambilnya. Katanya itu istana jin. Dan katanya lagi, tempat itu bisa memberi uang. Maka, kami kembali mengadakan lelaku dengan tirakatan dan mengadakan selametan dengan penduduk sekitar. Pada malam ke lima. Kedua teman saya tidur, sementara saya masih terus melek. Dan tiba-tiba peti itu muncul. Saya bangunkan mereka dan saya suruh mereka yang mengambil, karena saya tidak berani mengambilnya. Dibuka, isinya uang. Untuk meyakinkan keaslian uang itu, diambillah satu lembar. Esoknya dibelanjakan oleh salah satu santri dan laku. Tetapi uang tetap harus diselameti dulu sebelum dimanfaatkan. Kembali saya yang menjaganya. Pada hari terakhir tirakatan dan selametan, kita buka petinya dan semua uangnya telah berubah menjadi kertas.
JALAN PANJANG PERTAUBATAN
Tahun 1991 saya masih kuliah di IAIN. Waktu itu saya sudah mulai kenal agama. Saya mulai kenal Darul Arqom, Jamaah Tabligh, senang baca kitab sendiri. Keraguan saya terhadap dunia yang selama ini saya geluti semakin kuat. Apalagi saya kecewa berat terhadap dunia perdukunan ini. Niat besar saya bukan harta. Tetapi berdakwah kepada masyarakat dengan ilmu-ilmu tersebut. Anak-anak muda yang senang mabuk dan tawuran mau kumpul kepada saya karena saya punyai ilmu perdukunan. Kemudian saya nasehati. Benar, mereka mau berhenti sesaat. Tetapi setelah itu balik lagi. Bahkan ada dua murid saya yang saling bacok-bacokan. Saya gagal dalam berdakwah dengan cara seperti itu. Tidak ada hasilnya.
Perjalanan taubat saya sangat panjang. Tidak bisa langsung tuntas. Banyak hal yang membuat pertaubatan sangat sulit. Di antaranya popularitas. Banyak orang yang sudah terlanjur kagum dan percaya kepada saya. Jadi sekali waktu, ketika ada yang datang meminta bantuan, saya masih menunjukkan kemampuan saya di hadapan orang tersebut. Semua orang segan kepada saya. Sehingga tidak ada yang berani menegur saya. Juga karena saya sudah mempelajari semua ini sejak kecil. Sudah mendarah daging.
Saya terus merenung dan mengkaji. Saya mulai meragukan kebenaran ilmu karamah. Logika saya berkata, karena karamah ini bisa mendatangkan gerakan apapun yang kita minta, maka kita minta gerakan menggitar layaknya pemusik ternama pun bisa. Tapi kan tidak mungkin Allah memberikan jurus menggitar. Berarti ilmu ini bukan dari Allah seperti yang saya yakini selama ini.
Saya juga bertanya kepada para kyai dan ulama yang benar. Mereka sangat berjasa besar dalam pertaubatan saya. Walaupun, suatu saat saya pernah kecewa pada seseorang yang pernah belajar di Mekah. Waktu saya tanya apa hukumnya susuk, dia katakan boleh asal untuk pengobatan membantu orang lain. Padahal saya sedang membutuhkan jawaban yang berdasarkan dalil.
Sampai akhirnya saya menikah tahun 1995. Allah menganugerahi saya istri yang sangat shalehah. Dialah orang yang sangat besar jasanya mengembalikan saya ke jalan yang benar. Tanpa menggurui dan dengan sabar, istri terus mengingatkan saya, “Sampeyan itu mas, begini ini apa dasarnya?” Saya pun segan. Ritual perdukunan saya lakukan diam-diam. Hingga suatu hari saya katakan bahwa saya mau taubat, istri saya gembira luar biasa. Setelah itu setiap ada pasien yang menelepon, istri saya langsung memarahinya.
Proses taubat belum selesai. Tahun 1997 Allah menganugerahi pada kami buah hati, perempuan. Tapi cobaan itu datang. Anak saya ada masalah pada sebagian anggota tubuhya. Perasaan saya ketika itu berkata, “Ini teguran dari Allah dan mungkin gangguan dari jin yang tidak rela melihat saya taubat.”
Selanjutnya giliran jin yang berulah. Saya sakit parah dan lama tahun 1997 itu. Tidak bisa buang air kecil. Sakitnya luar biasa. Seorang ustadz meruqyah saya. Seketika itu saya langsung bisa kencing. Tapi kencing darah banyak sekali.
Bukan hanya sekali itu saya merasakan gangguan jin. Suatu saat ada orang gila datang ke tempat saya sambil membawa pedang berteriak-teriak. Katanya dia seperti itu gara-gara dulu disusuk oleh Gus Wachid. Tetangga-tetangga semua dengar. Mungkin jin bermaksud agar saya minta bantuan mereka lagi. Tetapi tidak. Saya ambil wudhu baca al-Qur’an, saya baca: lailaha illallah wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli syaiin qodir. Saya keluar membawa tongkat. Dan alhamdulillah saya bisa menaklukkannya kemudian disuntik dokter dengan obat penenang.
Adapun untuk berani menyatakan bahwa semua ini adalah haram belum lama. Yaitu setelah saya kenal dengan kawan-kawan dari Ghoib Ruqyah Syar’iyyah. Saya jadi sering menangis kalau memikirkan kesalahan di masa lalu. Sangat menyesal. Saya pernah menebus kesalahan itu dengan puasa Dawud dalam rentang waktu yang sangat lama. Sebagai bentuk pernyataan taubat, sekarang ini di mana-mana, di pengajian umum, di pertemuan ribuan orang yang banyak~dihadiri para kyai dalam sebuah acara saya bicara lantang, “Saya dulu tidak mengajak dakwah kepada Allah. Dakwah saya dulu adalah dakwah untuk fanatik kepada saya. Saya dulu pernah mengisi susuk, ternyata itu haram. Saya dulu pernah memandikan orang malam-malam, ternyata itu salah. Saya bertaubat kepada Allah.”
Saya juga mendatangi mantan para pasien saya dulu. Meminta maaf kepada mereka. Tangapan mereka macam-macam tetapi semuanya baik-baik saja. Karena saya dulu tidak pernah memeras mereka. Ada yang mencoba menghibur saya, “Saya tahu kok kalau Gus itu dulu cuma main-main.” Tapi ada juga yang bilang, “Sebenarnya gak apa-apa kok Gus, kalau untuk kebaikan.”
MEMBONGKAR KEBOHONGAN RAJAH DAN DUKUN
Sesuai dengan pengalaman saya dulu, ternyata rajah-rajah dalam kitab Syamsul Ma’arif Kubra itu gedabrus kabeh (omong kosong semua). Saya pernah mempraktikkan macam-macam petunjuknya, tetapi tidak ada yang bisa. Bukan cuma saya, banyak orang yang telah mencobanya dan gagal. Saya pikir rajah-rajah itu hanyalah bisikan jin yang ngarang saja. Mungkin ampuh buat pengarang buku itu atau yang serius banget. Sebenarnya rajah-rajah itu berfungis agar ada ain (benda nyatanya) saja. Intinya adalah mengisinya dengan tenaga dalam.
Saya sendiri pernah datang ke seorang ahli rajah paling terkenal di Malang sini. Pelanggannya datang dari berbagai tempat sampai dari Jakarta pun ada, termasuk para pejabat tinggi negara. Dia punya majlis setiap malam Jumat Legi. Dengan menyembelih sapi. Pengajian itu diisi oleh 40 kyai gantian. Saya rutin datang waktu itu. Saya pernah cek dia dengan ilmu karamah saya, ternyata dia itu tidak ada isinya. Menjelang saya taubat, saya pernah kerjain dia. Saya berteriak-teriak pura-pura kemasukan roh memanggil nama dia di depan rumahnya. Kemudian saya diajak masuk, didudukkan di tempat duduknya sambil ketakutan. Jadi gak ada apa-apanya, dia gak tahu kalau saya bohongi.
Saya terus berdakwah kepada para kyai dan teman-teman perdukunan dulu. Salah seorang teman saya mengaku bisa pergi ke Mekah dalam sesaat dan shalat di Masjidil haram. Saya datangi dia. Saya bilang itu adalah jin. Dan saya perkuat dengan penjelasan ilmiah. Saya jelaskan waktu dia berangkat shalat Jumat ke Mekah jam I 1.00 waktu Malang, di Mekah masih jam 07.00 pagi. Jadi belum ada shalat Jumat. “Mosok gitu Gus?” kata dia yang kemudian bertaubat. Alhamdulillah.
Sekarang ini, yang saya incar adalah dukun-dukun yang berbuat kriminal. Kalau ada yang begitu, di mana saja tak parani (saya datangi) langsung tapi prosedural. Seperti belum lama ini saya sendirian, sebenarnya saya sudah mengajak teman-teman tetapi berhalangan. Saya mendatangi perguruan di Ngawi yang menawarkan ilmu menghilang. Caranya dengan menyembelih kucing, kemudian dikubur di tempat yang tidak terkena sinar matahari dan setelah empat puluh satu hari diambil dengan puasa selama itu. Ada sebelas tulang yang harus diambil. Sebelum mencoba ilmu itu, ada mandi dan ritual lainnya. Diusahakan dipaskan ritual hari terakhir itu pada malam bulan purnama. Terus ambil cermin. Sambil melihat cermin, disuruh untuk menggigit satu persatu 11 tulang itu. Mana tulang yang digigit dan wajahnya tidak terlihat di kaca, maka tulang itulah yang dibawa dan digunakan untuk menghilang kapan dia mau.
Ada tetangga saya yang ikut perguruan itu dan jadi gila. Bapaknya datang ke saya. Dan saya datang langsung ke Ngawi. Saya bawa polisi dan ikut menggerebeknya. Dia pun dipenjara. Sayangnya, bapaknya takut waktu digertak dukun itu. Akhirnya dia mencabut laporannya dari polisi dan dia dikeluarkan lagi dari penjara. Yang paling seru, pengejaran dukun dua tahun lalu. Adik kawan saya ditipu dalam bisnisnya 200 juta. Akhirnya dia datang ke dukun-dukun top untuk menggandakan uang. Dia datang ke Situbondo. Sebelum meminta uang dalam jumlah besar para dukun itu menyihirnya terlebih dahulu dengan air minum atau cara lainnya.
Saya dan teman-teman membongkar sindikat penipuan ini. Jaringannya dari Pasuruan, Probolinggo, Situbondo dan berujung di Madura. Saya datangi yang di Pasuruan. Orangnya menyeramkan, kukunya panjang sekali. Saya masuk ke rumahnya. Rajah-rajahnya saya sobeki, termasuk ayat-ayat yang ditempel di WC. Saya bilang, “Saya ini Gus Wahid. Kamu ini sesat, penipu.” Polisi menangkapnya. Walaupun saya dengar sudah dikeluarkan lagi.
Selanjutnya saya ke Probolinggo. Ternyata yang di Probolingo ini adalah ustadz yang lugu. Hanya diiming-imingi uang saja oleh para dukun itu. Saya nasehati dia baik-baik. Saya tidak tega marah, karena waktu saya bicara, anaknya yang kecil mengintip. “Sampeyan itu salah. Aqidah jadi rusak!” kata saya. Penggerebekan berlanjut ke Situbondo. Saya beserta lurah dan masyarakat setempat menggerebeknya. Sayangnya, si dukun lari dan tidak tertangkap.
Dan akhirnya ke Madura. Dukun paling top itu tidak bisa ditangkap. Pasalnya yang tahu tentang dukun ini adalah yang di Situbondo. Sementara dukun Situbondo tidak bisa tertangkap. Jadi, tidak ada bukti yang kuat untuk menangkapnya. Masyarakat kita punya masalah yang komplek. Saya pernah menulis bahwa di negeri ini ada tiga permasalahan penting yang harus segera diatasi. Pertama, tidak ada standarisasi ulama. Kedua, ketidakjelasan kurikulum pesantren. Ketiga, tidak ada editing syariat untuk buku dan tayangan televisi. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang bertaqwa.
Majalah GHOIB Edisi Khusus “Dukun-Dukun Bertaubat”
(Sumber : www Ghoibruqyah.com)
Mona : Dukun Generasi Kelima Pengikut Nyi Roro Kidul
“MONA (bukan nama sebenarnya), kamu berbakat jadi dukun hebat,” kata kakek suatu sore. Kata bernada pujian itu terlontar dari bibir kakek setelah sekian bulan. la memantau perkembangan murid-muridnya. Murid yang istimewa, karena semuanya memiliki pertalian darah. Generasi saya adalah generasi kelima dari keluarga yang secara turun ternurun terkenal sebagai dukun kesohor di Jawa Tengah. Pendadaran yang langsung dibawah kendali kakek memang dimaksudkan untuk mencari penerus dari ilmu leluhur kami. Para dukun yang telah sekian puluh tahun malang melintang di dunia perdukunan. Dari kawah candradimuka ini akan terlihat siapa yang layak menjadi pewaris ilmu leluhur keluarga kami.
Mulanya, saya tidak tertarik menjadi seorang dukun. Saya hanya mengikuti sebuah tradisi dalam keluarga yang harus menjalani latihan tahap pertama ini. Dan saya dinyatakan sebagai yang terbaik. Melebihi bakat yang dimiliki sepupu saya yang nampak ngotot ingin menjadi dukun.
Ukuran keberhasilannya sebenarnya mudah, hanya dengan melihat pengaruh dari tahapan puasa yang kami jalani. Seberapa lama seseorang dapat merasakan kehadiran jin tanpa ada rasa takut. Semakin cepat, katanya, bakat yang dimilikinya semakin besar.Umur saya masih belasan tahun ketika pertama kati disuruh berpuasa tiga hari. Rabu Pon, Kamis Wage dan Jum’at Kliwon, itulah hari-hari yang biasanya dipilih. Namun, puasa yang saya jalani berbeda dengan puasa dalam ajaran Islam. Waktu itu, saya disuruh mengawali puasa pada hari Selasa siang. Tepatnya jam tiga sore. Bukan Shubuh seperti lazimnya puasa dalam Islam. Satu jam sebelumnya saya harus mengikuti ritual mandi kembang.
Saya berpuasa tanpa makan dan minum. Adzan Maghrib berlalu tanpa seteguk air membasahi kerongkongan. Saya hanya diperbolehkan makan nasi satu kepalan tangan dan air putih bila sudah sangat lapar. Itu pun hanya dibolehkan makan sekali. Bila tidak mampu, otomatis saya dinyatakan telah gagal dalam pendadaran ini.
Jam dua belas malam, saya disuruh keluar rumah lalu menjejakkan kaki ke bumi tiga kali, sambil merapal mantra berbahasa Iblis yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna, Atas kekuatan udara, langit, bumi dan laut. Aku mengundang semua kekuatan itu atas penciptaan Tuhan. Atas nama besar Muhammad dengan dukungan Iblis ajmaun.”
Saya yang belum mengerti apa-apa, hanya menuruti kata-kata kakek. Selanjutnya, saya disuruh mandi dari tujuh mata air yang berbeda. Mata air yang harus jatuh dari gunung. Sebuah persyaratan yang sulit terwujud bila tidak dipersiapkan jauh-jauh hari. Namun, semua persyaratan itu telah dipersiapkan kakek. Saya tinggal menjalani ritual semata.
Hari ketiga, saya disuruh kakek masuk ke dalam kamar. Duduk bersila dan mematikan lampu. Hanya lilin yang dinyalakan. Dalam temaram lampu lilin, saya diperintahkan menanggalkan semua busana. Selanjutnya tinggal menunggu apa yang akan terjadi.
Kata kakek, nanti ada yang datang dan biasanya menepuk punggung sebelah kanan. Awalnya saya merinding memikirkan apa yang akan terjadi. Namun saya berusaha menepisnya dan menenangkan diri. Tepat jam dua belas malam lebih sepuluh menit saya merasakan tepukan di pundak sebelah kanan.
Saya langsung kedinginan. Dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk tidak berteriak. Saya diam. Menunggu apa yang akan terjadi. Ternyata hembusan angin mematikan lilin. Padahal saya berada dalam kamar yang tertutup yang seharusnya tidak mengizinkan angin masuk. Padamnya lilin merupakan pertanda buruk bagi saya.
Kakek menyatakan tirakat saya gagal dan harus diulangi lagi. Saya kembali menjalani ritual sejak awal di bulan berikutnya. Kali ini, kakek berpesan agar saya tidak membaca basmalah. Karena jin akan pergi lagi bila saya membaca basmalah. Puasa yang kedua ini, kakek benar-benar mengawasi saya, hingga ia pun puas. Saya dinyatakan lulus. Berikutnya saya disuruh melanjutkan puasa tujuh hari. Namun, terlebih dahulu saya harus mencari hari yang tepat. Rabu Pon, Kamis Wage dan Jum’at Kliwon, seperti biasa menjadi pilihan.  Dalam tahapan ini saya dinyatakan lulus, hingga langsung naik ke tangga berikutnya. Saya puasa dua belas hari, dua puluh satu hari dan empat puluh hari.
Setelah puasa empat puluh hari, saya disuruh kakek mandi di laut dengan membawa sisir, potongan rambut, potongan kuku dan celana dalam. Semua benda itu kemudian dibungkus dengan besek (sejenis tumbu terbuat dari anyaman bambu) dan ditinggal di laut. Setelah mandi saya langsung pulang. Karena kelelahan, sesampai di rumah saya tertidur. Saat itulah saya mendengar seseorang membangunkan saya. “Nduk, bangun,” katanya. Saya terjaga. Saya tidak tahu apakah saya bermimpi atau tidak. Di depan saya telah berdiri seorang wanita berkebaya. “Lungguh neng kene, Nduk (duduk di sini, nak)!” katanya. Saya turuti perintahnya. Tak lama kemudian, datanglah seorang kakek-kakek. Badannya kurus dengan balutan kain putih di kepalanya. la membawa sebilah keris. “Ini milikmu. Tolong dijaga!” katanya sambil menyodorkan sebilah keris kepada saya. Belum sempat saya menjawab, keris itu langsung masuk ke dada saya. Saya benar-benar merasakan rasa sakit ketika keris itu menembus dada.
Keesokan harinya, saya sakit demam. Badan dingin menggigil. Setelah diserang panas dingin dua minggu lamanya, kakek datang. “Bagaimana, sudah masuk apa belum?” tanyanya. Belum saya jawab, kakek sudah mengejar dengan pertanyaan kedua. “Sudah didatangi apa belum?” katanya.
Saya heran, siapa orang yang dimaksudkan kakek. Pertanyaan kakek itu masih belum dapat saya jawab. Hanya diam jawaban saya. Saya tidak menghubungkan pertanyaan kakek dengan peristiwa dua minggu yang lalu. Pembicaraan pun beralih ke sakit saya. “Tidak apa-apa, nanti juga sembuh” kata kakek, setelah memegang kening saya. la kemudian mengunyah jahe lalu menaruhnya di ubun-ubun saya. Aneh, perlahan rasa sakit itu hilang, hanya dengan kompres jahe yang dikunyah kakek.
Sejak itu, saya merasakan lidah saya menjadi tajam. Umpatan dan ancaman seringkali menjadi nyata. Orang pertama yang menjadi korban masih teman sekelas. Namanya Veti. la selalu menghina saya di depan umum. “Ngapain ke sini, kamu kan bau. Bau amis,” kata Veti sinis.
Saya tidak terima dipermalukan sedemikian rupa. Dengan reflek, saya menjejakkan kaki kiri ke tanah tiga kali dan merapal mantra, Demi angin, …… saya berpegang padamu atas keputusan Tuhan.” Selanjutnya saya menyebut nama Veti seraya mengancam. “Celaka kamu, kalau kamu memang tidak mau minta maaf sama saya.” ketika pulang dari sekolah, Veti tertabrak mobil. la mengalami luka parah. Kakinya patah.
Waktu itu, saya belum berpikir macam-macam bahwa kecelakaan itu karena ucapan saya. Tapi peristiwa demi peristiwa yang terjadi kemudian membawa saya pada kesimpulan bahwa saya tidak boleh berbicara sembarangan.
RAMALAN PERTAMA YANG MENGGUNCANG KELUARGA
Saat SMA itu, saya sudah mulai meramal. Yang pertama menjadi korban masih sepupu saya. Retno, begitu ia biasa dipanggil. Retno yang telah berpacaran 8 tahun tidak lama lagi menikah. Hari H sudah ditentukan. Undangan juga sudah tersebar. Hari bersejarah dalam hidupnya, tinggal menghitung hari.
Sehari sebelum hari H, saya bermain ke rumah Retno. Dari raut wajahnya saya meramalkan bahwa pernikahannya akan gagal. “Ngapain kamu repot-repot seperti ini. Dia bukan jodohmu,” kata saya tanpa merasa bersalah. Terang saja Retno blingsatan. la marah. “Kenapa kamu ngomong begitu, tidak sopan,” katanya.
“Lihat saja. Siapa jodoh kamu. Jodoh kamu itu orangnya dari timur. Kulitnya putih dan rambutnya keriting, ketemunya kamu nanti di kereta,” jawab saya dengan ringan. Retno terpana. la masih tidak percaya dengan ramalan saya. la bertanya dengan sedikit ragu, “Mengapa kamu bisa tahu kalau saya tidak berjodoh sama dia?”
“Karena di muka kamu terlihat bukan dia suami kamu. Aura kamu tidak nyambung. Kalau kamu tetap nekat sama dia, kamu akan susah. Kamu akan sengsara,” kata saya panjang lebar.
Tak lama setelah kepergian saya, terdengar berita buruk. Retno gagal melangsungkan pernikahan esok harinya. Keluarga besar terpengaruh dengan ramalan saya dan memutuskan untuk membatalkan pernikahan. la syok. Keluarga pun tertimpa aib. Ujung-ujungnya saya disalahkan karena ramalan itu. Enam bulan lamanya ia baru dapat melupakan kenangan pahit itu. Ketika Retno berangkat ke Yogya, ia menceritakan mimpinya. la tidak lagi mempermasalahkan ramalan saya yang menggagalkan pernikahannya dulu. “Mon, saya mimpi dikelilingi api,” katanya. “Berangkat sekarang. Besok kamu bertemu dengan jodohmu,” jawab saya meyakinkan. Retno pun berangkat ke Yogya. Dan begitu pulang, dia langsung memperkenalkan seorang pria yang kelak menjadi suaminya.
Selain itu saya mulai menerima  pasien. Pasien pertama saya adalah seorang penderita hilang ingatan asal Semarang, Jawa Tengah. Namanya Elsa. Saya pegang ubun-ubunnya, lalu saya tiup sebentar. la memang gila, gumam saya. Setelah saya putuskan untuk mengobatinya, saya berpuasa tiga hari. Kemudian saya membawanya ke laut. Di sana, saya duduk di pantai layaknya orang yang bersemedi. ‘Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, saya memanggil penguasa  laut kidul. Saya minta pertolongannya dan meminta petunjuk atas kebenaran yang tidak saya ketahui.” Mantra pemanggil Nyi Roro Kidul pun saya rapal. Air laut yang ada di depan saya bereaksi. Air laut itu langsung mendekat. la seakan bernyawa. Keluarga Elsa ketakutan melihat apa yang terjadi. “Panggil saja lautnya dengan ikhlas,” seru saya kepada orangtua Elsa. Mereka pun menuruti permintaan saya. Mereka memanggil air laut. Air laut kembali mendekat. la seakan menelan kami. Ia seperti menyambut kedatangan kami. Bila sudah demikian, saya tahu bahwa pasukan Nyi Roro Kidul sudah datang.
Sebelum memandikan Elsa, terlebih dahulu saya memotong kuku, rambut dan pakaian dalamnya. Saya minta orangtuanya menyebutkan nama kecilnya serta nama ibunya. Setelah itu potongan kuku, rambut dan pakaian dalam itu saya cuci sampai bersih lalu saya buang ke laut. Selang beberapa minggu kemudian, orangtua Elsa menghubungi saya dan mengatakan bahwa Elsa telah sembuh. Hanya saja setiap menjelang bulan Syura, dia harus ke laut.
Semakin hari, pasien saya semakin banyak. Jumlahnya mencapai ratusan atau bahkan ribuan. Karena kakek dan paman, juga sering melimpahkan pasiennya kepada saya. Mereka menganut aliran kejawen yang berkiblat ke Nyi Roro Kidul. Karena itu bila mendapat masalah yang pelik, mereka selalu datang ke laut dengan membawa sesembahan berupa bedak, sisir, kemben hijau, selendang hijau, kebaya, jarik parang, bunga mawar dan bunga melati. Sesajen itu biasanya dibawa pada hari Selasa kliwon atau Jum’at Kliwon.
Beragam alasan pasien yang datang kepada saya. Ada yang minta penglaris, dimenangkan dalam perjudian, maupun pelet. Seperti yang dialami seorang teman karib saya, Desi namanya. la diinjak-injak pacarnya sendiri. Sebagai sesama wanita saya tidak rela teman saya diperlakukan demikian. Desi pun minta tolong saya agar pacarnya tidak memutuskannya. “Mon, tolong saya!” pintanya memelas.
“Coba cari daun teratai tiga lembar. Cari yang arahnya saling bertemu dengan ruas yang sama,” kata saya menjawab permintaan Desi. Desi benar-benar mencari daun teratai itu. “Kamu harus puasa sehari semalam. Tanpa makan, minum dan tidur. Jam dua belas malam, ambil air wudhu dan duduklah menghadap kiblat dengan kaki bersila. Lalu tumpuk daun teratai itu menjadi satu. Sebut namanya disertai dengan membaca mantra lalu satukan daun-daun itu. Bayangkan pacarmu lalu usapkan ke kening. Setelah itu jadikan daun teratai itu sebagai bantalan tidur. Keesokan harinya pacarmu akan datang dengan muka yang aneh. Pandangannya kosong dengan raut muka merah jambu.” Saya jelaskan kepada Desi cara mendapatkan pacarnya melalui ilmu pelet. Desi akhirnya bersatu kembali dengan pacarnya. Hanya saja cintanya kini sudah melebihi batas. Dia tidak bisa berpisah dengan Desi. Kemana-mana selalu ingin bergandengan tangan. Cintanya sudah tidak wajar. Karena itu dua tahun kemudian Desi menemui saya lagi. la meminta agar peletnya dilepas. “Kasihan, ia bukan lagi yang saya kenal dulu,” ujar Desi. “Bakar saja fotonya dan kemenyan bersamaan. Niatkan bahwa kamu ingin melupakannya.” Itulah solusi yang saya berikan kepada Desi. Dengan itu, mereka tidak lagi mesra seperti yang dulu. Mereka pun akhirnya berpisah dan tidak melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.
LARUNG SESAJEN Dl PANTAI SELATAN.
Tahun 2003, saya ikut kakek melakukan ritual ke laut selatan di malam hari. Bertepatan dengan hari Selasa Kliwon. Dari rumah kami berjalan kaki ke laut. Saya mengenakan kebaya sambil membawa tumpeng lengkap dengan nasi kuning. Sementara kakek membawa seperangkat sesajen berupa macam-macam pakaian, bedak, kapur sirih, tembakau, mas-masan dan kain hijau. Kami menuju laut. Sebelum masuk pintu gerbang, saya duduk dalam posisi menyembah dengan dipimpin kakek. Kemudian kami berjalan beberapa langkah, lalu duduk menyembah kembali. Setelah melewati laut, saya mencium bau yang sangat harum. “Hmm…. Bau harum melati,” gumam saya sambil menghirupnya dalam-dalam.
Semua barang bawaan dilarung ke laut. Selang beberapa menit kemudian, ombak datang menggulung sesajen. Kakek ceria. Wajahnya berbinar-binar. la merasa sesajennya diterima Nyi Roro Kidul. Lalu kami pun pulang dengan mengambil jalan berbeda. Tapi anehnya, bau harum itu ikut pulang bersama kami. Bau harum melati itu terus membuntuti sampai dalam rumah. Ketika saya tanya, kakek hanya men-jawab singkat. “Nyi Roro ikut.”
Sejak itu, saya mulai sering bermimpi yang aneh-aneh. Saya diajak jalan-jalan ke laut selatan. Melewati pintu gerbang dan batu pualam yang tinggi. Dalam mimpi itu, saya disambut prajurit berpakaian ala kraton. la bersenjatakan tombak. Prajurit itu mempersilakan saya masuk dan menyuruh saya tanda tangan. Tapi saya tidak mau, meski saya lihat banyak juga yang membubuhkan tanda tangan. “Saya hanya ingin lihat-lihat,” elak saya.
“Ya sudah kamu masuk, memang kamu orang sini,” jawabnya mempersilakan saya masuk. Saya melihat istana yang indah. Dengan lalu lalang orang yang tiada henti. Di sebuah ruangan terlihat emas permata yang melimpah. Puluhan orang datang mengambil permata-permata itu silih berganti. Di sudut lain, saya melihat laki-laki yang dikelilingi perempuan yang cantik-cantik. Orang itu lagi ngapain? tanya saya, tapi tidak adayang menjawab. Saya terus melangkah. Di sebuah tempat saya melihat orang-orang yang mengambil buah yang berisi permata. “Mereka lagi ngapain?” tanya saya kepada penjaga. “Mereka itu minta. Kamu nggak ikut minta?” tanya balik seorang penjaga. Saya menggelengkan kepala. Saya tidak tertarik untuk membawanya, justru saya ingin segera pulang.
Ketika pulang, saya merasa seperti terdampar di sebuah kilang minyak. Saya pun terbangun keheranan. Yang lebih mengejutkan, tempat tidur saya penuh dengan pasir. Mulanya, saya berpikir mungkin tadi belum saya bersihkan. Tapi keesokan malamnya, saya kembali bermimpi. Saya dijemput sebuah kereta kuda. “Ayo nduk pulang. Wong rumahmu di sana,” ajak seorang perempuan berkebaya. Dalam mimpi itu saya kembali ikut ke laut pantai selatan. Tentu dengan pengalaman yang berbeda dan satu hasil. Kamar saya bertaburan pasir kembali.
KUNJUNGAN KE ‘ISTANA NYI RORO KIDUL’
Akhir Desember 2003, saya membaca Majalah Ghoib edisi 9. Dalam sebuah rubriknya dikisahkan seorang anak yang bertingkah aneh karena bisa melihat jin. Saya merasakan kisah anak itu seperti perjalanan hidup saya. Bahkan lebih mengerikan. Dari sana, saya mulai berpikir bahwa ada yang salah dalam diri saya. Ada masalah yang harus segera diselesaikan.
Ketika saya bertemu dengan kakek, saya pertanya-kan apa yang selama ini men-jadi beban pikiran saya. “Kek, benarkah dalam diri saya ada jinnya?” tanya saya sambil menyodorkan Majalah Ghoib. Kakek terpana. la tidak menduga mendapat pertanyaan itu. “Tidak, kamu itu turunan,” jawab kakek dengan suara bergetar. Kakek mem-baca sepintas Majalah Ghoib lalu merobek-robeknya. Kakek bercerita, saya adalah keturunan kelima yang diharapkan dapat mewarisi semua ilmu leluhur.
Ruang diskusi dalam hati saya belum tertutup, meski Majalah Ghoib telah dirobek-robek kakek. Saya kembali menelusuri perjalanan masa lalu. Perubahan sikap dan perilaku yang telah saya alami. Saya terkesima. Saya telah banyak berubah. Sejak tahun 2003, saya sudah tidak lagi menjalankan puasa Ramadhan. Jin yang merasuk ke dalam diri saya tidak mengizinkannya. Tenggorokan saya tercekik, bila saya niatkan puasa Ramadhan atau puasa sunah lainnya. Satu hal yang sangat berbeda bila saya puasa mutih atau ngrowot. Semuanya berjalan dengan lancar. Saya juga tidak lagi bisa shalat. jin-jin itu yang menghalangi saya.
Selain itu, ibu dan kerabat dekat saya mengatakan saya telah banyak berubah. Katanya saya jahat sekali. Saya menjadi licik dan omongan saya kotor. Saya bersedih. Linangan air matapun tidak lagi tertahankan. Saya menangis dalam kesendirian. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti ruqyah. Awal 2004, saya berniat mengikuti ruqyah, namun tidak pernah kesampaian. Ada saja hambatan. Bahkan bisikan dalam diri saya melarang dengan keras. Baru di akhir tahun 2004, tepat setahun setelah berkenalan dengan Majalah Ghoib saya mengikuti ruqyah massal. Waktu itu di sebuah kota di Jawa Tengah diadakan seminar dan ruqyah masal. Saya datang, karena saya sudah bertekad untuk keluar dari jalur perdukunan. Meski untuk itu saya harus melawan orangtua dan kakek yang mengharapkan saya mewarisi ilmu keluarga.
Meski untuk itu saya harus kehilangan harta yang melimpah. Dan saya harus memulai lagi dari nol. Bayangkan saya biasa mendapatkan uang empat ratusan ribu bahkan lebih untuk sekali terapi. Sebuah penghasilan yang sangat menggiurkan memang. Saat ruqyah masal itu, di dada saya ditaruh sebuah mushaf al-Qur’an. Anehnya, tubuh saya bergejolak. Aliran darah seakan terhenti. Tidak ada yang mengalir ke seluruh tubuh, hingga saya merasa sekujur tubuh saya kesemutan.
Tanpa sadar, saya berontak. Saya memukul ustadz yang menerapi. Bahkan al-Qur’an yang suci itu saya ludahi. Saya semakin kaget. Karena saya bisa melihat apa yang saya lakukan. Tapi saya tidak kuasa menahannya. Saya berteriak dan tertawa terbahak-bahak.
Setelah ruqyah itu saya demam selama seminggu. Satu hal yang tidak pernah terjadi sejak dikompres jahe oleh kakek, dulu. Saya berubah menjadi seorang penakut. Saya merasa ada serombongan orang yang memanggil-manggil. Mereka menyuruh saya kembali. Kemana-mana saya selalu dicekam ketakutan. Meski demikian, saya beruntung. Karena sejak ruqyah pertama, saya mulai bisa menjalankan shalat. Meski awalnya berat, seperti ada yang membebani di punggung. Tapi setelah terus dilawan, akhirnya beban itu hilang dengan sendirinya. Hanya saja, setelah ruqyah pertama kemampuan saya semakin tajam. Pasien yang meminta jasapun semakin banyak. Pasien-pasien lama banyak yang kembali datang. Sebuah pertentangan batin yang berat memang. Di satu sisi, kehadiran mereka mendatangkan keuntungan materi dan kehormatan. Namun pada sisi lain, saya telah menyatakan mundur dari dunia perdukunan. Sebuah masa transisi yang sangat menyesakkan dada.
Namun keputusan sudah diambil. Saya tidak mau surut ke belakang. Apapun resikonya. Akhirnya dengan bahasa yang halus, saya menolak permintaan mereka. Saya mulai menyarankan mereka untuk menempuh cara yang tidak menyimpang dari agama. “Berdoalah kepada Allah dan lakukan shalat hajat,” solusi seperti inilah yang pada akhirnya saya berikan kepada mereka.
Beberapa minggu setelah terapi pertama, saya ikut terapi ruqyah secara berkelanjutan. Saat itulah saya merasakan tubuh saya memanjang. Saya hanya merasakan seperti melihat ular. Tanpa sadar, saya mendatangi ustadz. “Siapa kamu. Mengapa kamu membunuh anak buah saya? Percuma kamu membaca bacaan-bacaan itu karena tidak akan berpengaruh kepada saya. Saya tidak mempan oleh bacaan-bacaan itu,” begitulah celotehan saya seperti dikisahkan seorang teman.
“Saya membunuh anak buahmu karena mereka masuk ke tubuh Nona dan mengganggunya,” jawab ustadz. “lya, karena anak ini yang meminta. Dia meminta kepada saya dan saya hanya mengirimkan yang dia minta,” jawab balik saya. Jin yang merasuk ke dalam tubuh saya itu membandel. Dia masih belum mau keluar.
“Jangan salahkan saya karena perempuan ini yang datang ke saya,” ujar jin melalui bibir saya. “Perempuan ini sudah bertobat,” ujar ustadz. “Tapi perempuan ini sudah memberikan perjanjian kalau dia akan memberikan semuanya kepada saya dan mengembalikan semuanya kepada saya,” jin yang merasuki tubuh saya tidak mau mengalah. Dia terus mengoceh. Ketika ditawarkan untuk masuk Islam, jin itu tidak tahu. “Saya tidak tahu sama sekali apa itu Islam. Siapa itu Muhammad. Itu zaman kapan? Karena saya tidak hidup pada zaman itu. saya tidak mau bersyahadat, karena saya tidak mengenal Muhammad dan Islam,” jin itu tetap membandel.
“Keluar dari sini,” bentak ustadz. “Ya, saya akan keluar karena saya masuk dengan kemauan sendiri, maka saya bisa keluar dengan kemauan sendiri.” Setelah mengucapkan kalimat itu, jin itu keluar saya pun tersadar. Jin yang merasuk ke dalam tubuh saya memang belum keluar semua. Tapi saya tidak berputus asa. Sudah belasan tahun mereka bertahan dalam tubuh saya, tentu mereka juga tidak mau keluar dengan mudah. Satu hal yang ingin saya pegang teguh, bahwa saya akan terus menempuh jalur ruqyah untuk membersihkan diri. Semoga Allah mengam-puni dosa-dosa saya. yang telah banyak menyesatkan orang melalui ilmu perdukunan yang saya kuasai.
Majalah GHOIB Edisi Khusus “Dukun-Dukun Bertaubat”
(Sumber : www.ghoibruqyah.com)
Wiridan Dua Juta Kali?
Dida, Mantan dukun yang hafal al-Qur’an
Menjadi orang sakti itu mahal harganya. Banyak hal yang harus dikorbankan. Bila pengorbanan itu hanya sebatas materi, waktu dan tenaga tidaklah mengapa. Semua itu hanya bersifat sementara. Tapi kalau harus mengorbankan akidah, maka jangan coba-coba menjadi orang sakti. Derita berkepanjangan di akhirat segera menanti. Karena untuk menjadi sakti, mau tak mau harus bekerja sama dengan jin, seperti dituturkan Dida, mantan dukun yang bertaubat dan telah menamatkan hafalan al-Qur’an. Berikut petikan kisahnya.
Sejak kecil, aku memang punya cita-cita ingin menjadi orang yang sakti mandraguna. Ditembak lakak-lakak, ditombak cengengesan. Darah orang sakti mengalir deras dalam diriku. Kakek terbilang orang sakti. Di kampungku ia sangat terkenal. Untuk mendapatkan kesaktian itu, kakek rela berpuasa selama empat puluh hari dengan tetap bertengger di atas pohon kelapa.
Puasa empat puluh hari saja, banyak yang sudah tidak sanggup, karena bukan ritual sembarangan. Tapi kakek sanggup melakukannya dengan tetap bertahan di atas pohonkelapa selama empat puluh hari. Semangat yang membajalah yang membuat kekek mampu bertahan. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan impian menjadi orang sakti. Karena itu, ketika kusampaikan keinginanku menjadi orang sakti, ibu tidak melarang. Toh, lelakon ngelmu itu bukan barang asing bagi ibu.
Pergulatanku dengan dunia kesaktian dimulai sejak aku duduk di bangku SMP. Awalnya, aku bergabung dengan perguruan silat di kampungku bersama teman-teman. Latihan-latihan fisik menjadi menu harian. Selain itu, aku juga nyantri di beberapa tempat. Lelakon dengan puasa pun mulai kulakukan.
Sebenarnya, aku belum diperbolehkan puasa. Masih kecil, katanva. Hanya karena keinginan menjadi orang sakti begitu kuat, larangan itu tidak kuhiraukan. Aku nekat puasa yang terbilang berat untuk anak seusiaku. Selama tiga hari, aku hanya berbuka dengan tiga suap nasi. Nasi dikasih air kemudian diaduk. Air nasi kemudian diminum seteguk, dua teguk. Kemudian nasinya dimakan tiga suap. Tidak boleh lebih. Setelah itu tidak boleh makan lagi, hingga sahur. Memang tidak ada larangan untuk sahur. Tapi karena mulut terasa pahit, aku pun malas sahur. Praktis tiga hari hanya makan tiga suap nasi setiap buka.
Tiga hari pertama aku lulus. Dilanjutkan dengan puasa tujuh hari. Meski badan terasa lemas, tapi aku masih sanggup menyelesaikanrrya. Terakhir puasa dua puluh satu hari.
Puasanya memang berat sekali. Apalagi orang di sekitarku tidak ada yang berpuasa. Hanya aku sendiri. Cobaannya begitu berat kurasakan. Susah tidur. Ketika ibu menggoreng ikan asin saja, aku sudah ngiler. Karena saking pinginnya. Setelah menyelesaikan puasa dua puluh satu hari, aku bisa melakukan gerakan-gerakan silat yang selama ini tidak pernah kupelajari.
Sukses berpuasa selama tiga puluh satu hari, membuat tekadku semakin kuat. Aku pun mulai berkelana dengan beberapa teman. Sesekali aku berguru ke Jawa Tengah. Tetapi aku tinggal di JawaTimur yang perbatasan dengan Jawa Tengah.
Kalau ada orang sakti, kudatangi. Biasanya aku datang bersama teman-teman seperguruan. Pernah, ketika bertandang ke’orang sakti’ aku diisi dengan tenaga dalam tingkatan menengah. Setelah diisi langsung dicoba. Memang, ketika ada teman yang memukuliku, dia langsung terpental. Waktu itu aku heran, kok bisa begitu. Aku pun menganggap itu adalah kelebihan yang dlberikan Allah SWT.
Selama berkelana, orang tuaku berpesan, agar aku tidak bekerja sama dengan jin. “ltu nggak boleh,” katanya. Sepengetahuan orang tuaku dukun-dukun iru bekerja sama dengan jin. Tapi apa yang kupelajari berbeda dengan ilmu perdukunan. Aku wiridan dengan ayat-ayat al-Qur’an atau doa yang berbahasa Arab. Jadi, mereka tidak melarang.
Wiridan Dua Juta Kali
Masa-masa SMA tidak jauh berbeda. Aku masih bergelut dengan dunia kesaktian. Entah sudah berapa tempat yang kudatangi. Selain itu, aku juga mulai membiasakan diri bermalam di kuburan. Lebih dekat dengan orang-orang’sakti’ yang jasadnya terbaring di dalam tanah, pikirku. Bagi kebanyakan orang, kuburan adalah tempat yang angker. Jangankan bermalam di sana, untuk melintas siang hari saja banyak yang tidak berani. Rasa takut itu seakan sudah hilang dari diriku. Bagiku, bermalam di kuburan tidak berbeda dengan bermalam di rumah sendiri. Aku merasa nyaman saja di sana. Terlebih aku merasa dapat lebih dekat dengan orang-orang ‘sakti’ di sana.
Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur. Aku masuk fakultas sastra Inggris. Awalnya, kujalani masa perkuliahan dengan senang. Hingga suatu ketika, teman-teman di fakultas mengadakan kegiatan yang bernuansa Islami. Saat itulah, aku tertegun dengan bacaan al-Qur’an yang diperdengarkan di awal acara. Terasa ada desiran-desiran halus yang merasuk ke dalam jiwa. Ada dorongan yang mengarahkanku untuk menjadi seorang penghafal al-Qur’an.
Dorongan yang kuat itu tak mampu lagi kutahan. Hingga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan sastra Inggris dan bergelut dengan al-Qur’an. Ketika kusampaikan keinginanku itu kepada orang tuaku, mereka tidak melarang. Mereka hanya berpesan, agar aku serius dengan keputusanku. Menjadi seorang penghafal al-Qur’an tidaklah semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan tekad yang membaja agar tak luntur di tengah jalan.
Nasehat orang tua kusanggupi. Aku pun meninggalkan rumah dengan satu tujuan. Mencari pondok pesantren tahfidz. Pilihanku adalah Banten, Jawa Barat. Meski di Jawa Tengah juga ada pondok tahfidz, tapi aku lebih memilih Banten. Lokasinya yang jauh dari rumah menjadi alasan tersendiri mengapa aku memilih Banten. “Biar tidak pulang terus,” jawabku ketika ditanya bapak.
Waktu pertama ke Banten itu seakan ada yang membimbing. Bukan ke pondok tahfidz, tapi aku diarahkan ke pesantren yang mengajarkan ilmu kesaktian. Ceritanya begini. Aku belum pernah ke Banten. Sementara wilayah Banten itu luas dan banyak pesantrennya. Ketika sampai di terminal Kalideres, Jakarta Barat, kondektur bertanya, “Mau kemana?” kujawab saja, “Banten.” sambil kuserahkan uang dua ribu lima ratus rupiah. Ternyata aku diturunkan di Cadassari. Di sana ada pesantren yang terkenal. Ongkos bis pun juga pas. Dua ribu lima ratus rupiah. Sebenarnya, ketika tiba di daerah Cadassari, rasanya aku sudah ingin turun saja. Sepertinya, hatiku cocok dengan daerah tersebut. Padahal aku belum mendapat informasi apa-apa tentang Cadassari. Apakah ada pondok pesantren tahfidz atau pondok pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu Islam lainnya. Setelah bertanya kesana kemari, aku disarankan untuk mondok di sebuah pesantren terkenal di sana. Kupikir, tidak ada salahnya bila aku belajar di pondok tersebut. Toh, banyak juga santri dari daerah lain yang juga punya tujuan yang sama denganku. Masalahnya, pondok pesantren tersebut tidak mengkhususkan diri dalam hafalan al-Qur’an. Ia tak ubahnya seperti pesantren lain yang bergaya salaf mengajarkan kitab kuning. Kitab Kuning adalah sebutan untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharokat.
Disanalah aku berlabuh. Meski di pesantren tersebut tidak ada hafalan al-Qur’an, aku tidak terlalu kecewa, karena aku mendapat gantinya. Cita-citaku menjadi ‘orang sakti’ dapat kembali terasah. Lelakon puasa atau wiridan-wiridan tertentu kembali menjadi menu harianku.
Untuk menjadi orang yang ‘sakti’ aku mengamalkan Hizb Nashr yang diawali dengan puasa tujuh hari. Hari pertama, berbuka dengan tujuh suap nasi. Hari kedua, dengan enam suap, begitu seterusnya hingga hari ketujuh, aku tidak makan sama sekali. Berat memang. Tapi karena tekad yang membaja, semua hambatan ltu seakan tidak ada artinya. Bersamaan dengan puasa itu, aku juga harus wiridan ayat dan doa-doa tertentu setiap selesai shalat. Nah, saat mewirid Hizb Nashr itu ada keanehan.
Dari hidung, mata dan pori-poriku keiuar darah. Tapi anehnya, aku tidak merasakan sakit. Menurut penjelasan yang kudengar, katanya, darah itu keluar sebagai akibat dari suhu panas dalam badanku yang meningkat saat merapal wirid Hizb Nashr. “Kamu tidak usah khawatir. Itu tidak berbahaya. Kalau ingin menghentikannya, bacalah al-Qur’an, maka darah akan terhenti dengan sendirinya.” kata guru memberi wejangan sebelum aku memulai lelakon Hizb Nashr.
Aneh memang. Darah tidak lagi keluar dari hidung, mata dan pori-pori begitu kubacakan al-Qur’an. Entahlah mengapa hal itu bisa terjadi. Waktu itu aku tidak begitu mempedulikan. Aku hanya ingin menguasai Hizb Nashr, tanpa banyak mempertanyakan keanehannya.
Hizb Nashr hanya sebagian dari ilmu kesaktian yang kupelajari. Terkadang, aku harus memasang telinga lebar-lebar di mana ada guru yang sakti di Banten. Bila sudah, dapat ke sanalah aku berguru.
Untuk menguasai sebuah ilmu aku pernah wiridan sebanyak dua juta kali. Jumlah yang sangat besar memang. Untuk menyelesaikannya, aku tidak keluar kamar selama empat puluh hari. Mencuci pakaian saja, aku tidak sempat. Aku meminta tolong pada salah seorang temanku. Keluar kamar pun hanya sesekali. itu pun hanya untuk berwudhu. Selebihnya aku duduk bersila diri di kamar dengan terus wiridan.
Orang kampung yang lama tidak melihat kehadiranku di tengah-tengah mereka penasaran. Mereka hanya mendengar kabar dari teman-teman bahwa aku sedang lelakon di kamar. Mereka semakin penasaran. Kok lama sekali, kata mereka. Aku memang akrab dengan warga sekitar. Tidaklah mengherankan bila mereka penasaran. Mereka ingin rnasuk, tapi tidak kutanggapi. Pintu tetap kukunci rapat. Akhirnya mereka menjebol jendela kamar. Begitu jendela kamar terbuka mereka langsung lari terbirit-birit. Padahal aku hanva melihat sekilas ke arah mereka. Katanya, mereka melihat seekor macan yang hendak menerkam. Sementara dari wajahku terpancar cahaya yang menyilaukan.
Selama wiridan, aku merasakan ada cahaya yang senantiasa menerangi kamar. Siang dan malam, cahaya itu tak pernah redup. Cahaya itu berasal dari sumber yang berbeda-beda. Terkadang, ada cahaya yang berasal dari sinar lampu. Sering kali cahaya iru berganti seperti cahaya bulan. Pada saat yang lain berganti dengan cahaya matahari. Tepat di atas kepala. Wajar memang bila ada yang membuka jendela kemudian terkejut.
Selain itu, aku juga sering didatangi orang. Ada yang mengaku guruku. Ada pula yang mengaku sultan Hasanudin atau seoranq cewek setengah badan. Mereka mengajakku dialog, tapi tak pernah kuhiraukan. Kubiarkan mereka bicara semaunya, hanya kutatap sepintas sebelum akhirnya aku larut dalam wiridan. Bagi orang yang terbiasa lelakon seperti diriku, pemandangan seperti itu bukan barang baru Itu sudah lumrah.
Setelalah menyelesaikan wiridan dua juta selama empat puluh hari, dilanjutkan lagi dengan puasa seiama 49 hari. (Yang sedang kupelajari itu adalah ilmu taisir maghrobi dan saiful maslul).
Menjadi Dukun Sejak di Pesantren
Lima tahun setengah aku mondok di Banten. Dalam rentang waktu itu banyak ilmu kesaktian yang kukuasai. Ilmu kebal, halimunan (menghilang dari pandangan orang), tenaga dalam maupun ilmur pelet. Khusus untuk ilmu halimunan, sejatinya orangnya tidaklah hilang. Hanya saja, ia tidak nampak di mata orang lain. Seakan ada pembatas transparan yang menutup pandangan mereka. Meski demikian, ilmu halimunan ada pantangannya. Ia tidak boleh dipakai untuk mencuri. Kalau pantangan tersebut dilanggar, maka ilmu halimunan akan hilang.
Dari berbagai ilmu kesaktian itulah aku bertahan hidup di pesantren. Terus terang, aku tidak pernah meminta kiriman uang dari orang tua di kampung. Sementara kebutuhanku terbilang besar. Kalau sekadar untuk makan, memang tidak seberapa. Tapi pengeluaranku terbanyak adalah untuk belajar ilmu kesaktian.
Untuk menguasai satu jenis ilmu saja dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku harus membayar mahar yang kadang berupa emas sampai seratus gram. Semakin besar mahar yang diberikan, maka keampuhan ilmunya makin hebat. Hizb Nashr misalnya. Sebelum mulai berpuasa tujuh hari, aku harus menyembelih seekor kerbau. Dagingnya memang dimakan ramai-ramai. Tapi tetap saja, aku harus menyediakannya. Bila belum tersedia kerbau, tentu aku tidak bisa mempelajarinya.
Lalu dari manakah aku dapatkan uang? Bagi orang sepertiku, untuk mendapatkanuang tidaklah terlalu sulit. Terlebih aku sudah dikenal sebagai ‘orang sakti’ sejak merantau ke Banten. Entah bagaimana ceritanya, ada saja orang yang datang kepadaku. Macam-macam alasanya.
Ada yang ingin diisi tenaga dalam. Ada pula yang ingin belajar ilmu kesaktian atau juga minta dibantu agar cepat dapat jodoh. Dari merekalah aku bertahan. Enaknya mondok di Banten itu satu orang menempati satu kamar. Jadi aku tidak perlu khawatir bila tamu-tamuku mengganggu orang lain.
Ada yang datang dari Lampung, Jakarta atau Banten dan sekitarnya. Tidak jarang pula ada yang mengundangku ke rumahnya. Aku sendiri tidak tahu awalnya, bagaimana mereka tahu bahwa aku bisa mengobati.
Setelah lima tahun setengah di Banten, aku kemudian merambah ke pesantren-pesantren di sekitar Banten. Ke Cianjur, Bandung, Garut maupun pesantren lainnya. Aku pernah pindah ke sebuah pesantren di Cianjur, Jawa Barat hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Uanq pun hanya cukup untuk bekal perjalanan. Selebih-nya, tidak tahu. Tapi aku yakin bahwa Allah itu Maha Kaya.
Waktu menamatkan shahih Bukhari di Bandung pun begitu. Kok, tiba-tiba ada yang datang. Ia minta diajari ilmu kesaktian. Orang tahu saja, kalau aku punya ilmu. Padahal aku tidak bilang apa-apa kepada teman-teman baruku. Dengan modal begitu, aku berkelana dari pesantren ke pesantren lain. Kadang, sampai kelelahan mengobati pasien.
Terkadang, ada kiai yang berguru kepadaku. Waktu itu, aku mondok di pesantren yang mengajar kitab fiqh. Kiai yang juga guruku itu pun datang ke kamarku. Ia minta dikasih ilmu kesaktian. Awalnya, aku menolak. Aku merasa tidak enak. Tapi kiai sedikit memaksa. “Mas,” katanya. Kiai memanggilku dengan panggilan Mas. “Mas, kalau tahu dari dulu. Aa belajar sama Mas,” katanya. Kutolak dengan halus, tapi kiai tetap memaksa. Akhirnya aku ajarkan ilmu kesaktian dan pengobatan. Lengkap dengan wirid dan cara puasanya.
Perjalanan Menuju Taubat
Tahun 2003, aku berpindah lagi ke sebuah pesantren di Tangerang, Jawa Barat. Tepatnva di pondok Tahfidzul Qur’an. Setelah sepuluh tahun berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain, barulah aku bertemu dengan pesantren tahfidz.
Aku diingatkan kembali dengan tujuan awal merantau ke Banten. Tak lain, adalah ingin menghafal al-Qur’an. Ternyata selama sepuluh tahun itu, aku belum bertemu dengan pesantren yang tepat. Di sana aku tidak bertahan lama. Karena tidak ada teman seusiaku yang juga menghafal al-Qur’an. Kebetulan, saat itu ada seorang teman menunjukkan sebuah lembaga tahfidz di Jakarta yang pesertanya bukan lagi anak-anak. Rata-rata mereka sudah lulus SMA.
Kuputuskan untuk bergabung bersama mereka. Nah, di lembaga tahfidz tersebut, wawasanku tentang keislaman mulai terbuka. Aku mulai banyak membaca sirah nabawiyah atau buku-buku lain yang mengupas keghaiban.
Hatiku tergugah, ketika aku merenungkan firrnan Allah SWT. dalam surat al-Jin ayat enam. Kubaca berulang-ulang. Kuresapi artinya secara mendalam. Hingga akhirnya aku menarik kesimpuian bahwa apa yang kupelajari
selama ini ternyata menyimpang dari tuntunan. Ayat keenam dari surat al-Jin mengatakan bahwa ada beberapa orang manusia yang meminta bantuan kepada jin, dan itu hanya menimbulkan penderitaan semata.
Padahal ilmu kesaktian yang kupelajari selama sepuluh tahun itu tidak terlepas dari bantuan jin, Misalnya ketika wiridan dua juta itu, aku menggunakan apel jin atau kemenyan yang dibakar. Kutaruh apel jin didepan tempat duduk. Lain kali, aku juga menggunakan hio seperti yang digunakan orang Cina. Aku membaca wiridan dengan kemenyan mengebul. Selain itu, aku baru menyadari bahwa ada sebagian doa yang kubaca adalah doa permintaan bantuan kepada jin. Meski lafadznya berbahasa Arab. Tapi tetap saja doa itu terlarang.
Sejak itu, aku menghentikan wiridan-wiridan yang biasa kubaca setiap saat. Kuganti dengan ayat-ayat al-Qur’an, yang menyejukkan jiwa. Selama mempelajari ilmu kesaktian hingga saat menghafal al-Qur’an aku memang tidak merasakan adanya gangguan secara fisik maupun psikis. Tapi hal itu hukan berarti dalam diriku tidak ada jinnya. Aku memiliki sekian banyak jin sebagai hasil dari wiridan dan puasa yang kulakukan. Jin-jin tersebut yang membantuku dalam pengobatan.
Aku yakin, ketika ilmu Kesaktian tidak lagi kuasah dengan membaca wiridan-wiridannya, maka ilmu tersebut secara pertahan akan menghilang. Seperti pisau yang tidak pernah diasah, maka pisau tersebut makin lama makin tumpul. Untuk itu, aku senantiasa melakukan penjagaan diri dengan membaca doa-doa perlindungan maupun mendengarkan kaset ruqyah terbitan Ghoib. Tidak lupa pula aku senantiasa melakukan ruqyah mandiri dengan ayat-ayat al-Qur’an yang telah kuhafal.
Alhamdulillah, setelah tiga tahun di lembaga tahfidz, aku berhasil menyelesaikan setoran hafalan. Kini, tinggal bagaimana aku bisa membagi waktu agar hafalan al-Qur’an tidak menguap begitu saja. Praktek perdukunan itu telah kutinggalkan di belakang. Kini, jika ada  pasien yang datang berobat, aku tidak lagi menggunakan ilmu-ilmu kesaktian  yang pernah kupelajari selama sepuluh tahun. Tapi justru aku meruqyahnya dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadist yang shahih.
Dalam beberapa kesempatan aku juga diundang mengisi kajian membongkar kesesatan ilmu kesaktian yang selama ini sebagiannya diajarkan di pesantren.
( Sumber :Ghoibruqyah.com)
Apa yang dijanjikan syetan hanyalah kebohongan, sedangkan janji Allah adalah pasti. Allah tidak pernah mengingkari janjiNya. Apa yang diperintahkan Allah untuk mendapatkan kesejahteraan hidup didunia dan akhirat tidaklah seberat apa yang diminta oleh Syetan. Allah hanya memerintahkan untuk mengerjakan amal saleh, yakin pada Allah, Mengerjakan shalat, Zakat, Puasa pada bulan ramadhan, ibadah haji insya Allah akan mendapat kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Sungguh aneh jika masih ada orang yang lebih percaya pada janji syetan daripada janji Allah. Janji Allah itu pasti , sedangkan  jani syetan hanyalah  tipuan dan kebohongan.

0 komentar: